Riset cara Rasulullah menentukan jadwal Sholat Zuhur dan sholat Asr

Ponpes Al Muzakir Ujanmas dalam pendidikannya mencoba membudayakan Riset atau penelitian, apa sebenarnyanya Riset itu sendiri.
        Riset atau penelitian sering dideskripsikan sebagai suatu proses investigasi yang dilakukan dengan aktif, tekun, dan sistematis, yang bertujuan untuk menemukan, menginterpretasikan, dan merevisi fakta-fakta.

Pada riset ini, kami mengambil landasan Hadits Rasulullah sebagaiberikut :
hadits ‘Abdullah bin ‘Amr berikut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُولِهِ مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ وَوَقْتُ الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ وَوَقْتُ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ مَا لَمْ يَغِبِ الشَّفَقُ وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الأَوْسَطِ وَوَقْتُ صَلاَةِ الصُّبْحِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ فَإِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ فَأَمْسِكْ عَنِ الصَّلاَةِ فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَىْ شَيْطَانٍ
“Waktu Zhuhur dimulai saat matahari tergelincir ke barat (waktu zawal) hingga bayangan seseorang sama dengan tingginya dan selama belum masuk waktu ‘Ashar. Waktu Ashar masih terus ada selama matahari belum menguning. Waktu shalat Maghrib adalah selama cahaya merah (saat matahari tenggelam) belum hilang. Waktu shalat ‘Isya’ ialah hingga pertengahan malam. Waktu shalat Shubuh adalah mulai terbit fajar (shodiq) selama matahari belum terbit. Jika matahari terbit, maka tahanlah diri dari shalat karena ketika itu matahari terbit antara dua tanduk setan. ” (HR. Muslim no. 612)

Gambar Riset pada Jam 08:00

Gambar Riset pada jam 15:30
        Bagi yang perna hadir dikota Suci Mekah dan melakukan Tawaf (mengelilingi Ka’bah) akan kaget dengan perputaran bayangan Riset ini, kenapa?, setelah kami lakukan riset dalam setiap 30 menit sekali bayangan pada awalnya memendek dan sedikit demi sedikit memutari tongkat sebagaimana putaran Tawaf pada ka’bah yaitu berlawanan dengan arah jarum jam. Subhanallah,,
        Ucapan Rasulullah/hadits di atas bukan berdasarkan nafsu atau sya’ir melainkan wahyu dari Allah, sebagaimana dikatakan dalam QS. Al-Najm:3-4
“Dan dia tidak berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”

Scroll to Top